TUJUAN TRAINING
Tujuan latihan
atau training adalah untuk membantu atlet meningkatkan keterampilan dan
prestasinya semaksimal mungkin. Untuk mencapai hal itu, ada empat aspek latihan
yang harus dilatih, yaitu :
(a)
FISIK,
(b)
TEKNIK,
(c)
TAKTIK,
(d)
MENTAL
A. LATIHAN FISIK (PHYSICAL
TRAINING).
Tujuan
utamanya ialah untuk meningkatkan potensi faaliah (ilmu faal) dan kemampuan
biomotorik ke tingkat yang setinggi-tingginya agar prestasi yg. paling
tinggi bisa dicapai.
Kondisi
fisik dikembangkan dengan urutan sbb.:
a.
Persiapan fisik umum (General Physical
Fitness).
b.
Persiapan fisik khusus (Specific Physical
Fitness).
c.
Persiapan fisik yang amat spesifik yang diperlukan oleh cabor
yang bersangkutan.
B. LATIHAN TEKNIK (TECHNICAL
TRAINING).
Tujuan latihan teknik ialah untuk mempermahir teknik-teknik gerakan
yang diperlukan agar atlet terampil melakukannya. Semakin sempurna tekniknya,
semakin sedikit pula energi yang perlu dikeluarkan untuk melakukan teknik tersebut.
Jadi
pengeluaran tenaganya pun menjadi ekonomis dan efisien.
Jadi, teknik yang sempurna = efisiensi tinggi
Teknik yang sempurna
ialah yang secara biomekanik benar dan
secara fisiologis efisien. Dan cepat-tidaknya atlet mampu menguasai suatu
teknik tertentu amat tergantung pula dari kesiapan fisik atlet.
C. LATIHAN TAKTIK (TACTICAL TRAINING).
Tujuan latihan taktik ialah
untuk menumbuhkan perkembangan daya tafsir pada atlet. Latihan taktik hanya akan bisa
sukses apabila tingkat kemahiran teknik setiap atlet sudah sempurna.
Dalam persiapan latihan taktik
termasuk tugas-tugas sebagai berikut :
- Pelajari peraturan permainan dan pertandingan.
- Kenali kemampuan-kemampuan strategis dan taktis calon lawan.
- Ketahui kekuatan dan kelemahan potensi fisik dan mental calon lawan.
- Teliti sarana, prasarana, dan lingkungan bakal tempat pertandingan.
- Kembangkan kemampuan tactical sense individual para atlet.
D. LATIHAN MENTAL (PSYCHOLOGICAL TRAINING).
Betapa sempurna pun fisik, teknik, dan taktik atlet, manakala mentalnya
tidak turut berkembang, prestasi tinggi tidak mungkin akan dapat dicapai. Pertandingan
adalah 80% masalah mental dan hanya 20% yang lain. Latihan mental harus diberikan secara sengaja,
sistematis, berencana, intentionally kepada atlet, dan jangan diharapkan
berkembang secara alamiah atau kebetulan saja.
TRAINING
Training adalah proses yang sistematis dari
berlatih atau bekerja, yang dilakukan secara
berulang-ulang, dengan kian hari kian
menambah beban latihan atau pekerjaannya” (Harsono, 2005).
·
Sistematis: berencana, menurut jadwal, menurut pola
dan sistem tertentu, latihan yang teratur, dari sederhana ke yang lebih
kompleks.
·
Berulang-ulang: maksudnya agar gerakan-gerakan yang
semula sukar dilakukan menjadi semakin mudah, otomatis, dan reflektif
pelaksanaannya sehingga semakin hemat energi.
·
Kian hari kian tambah beban: maksudnya ialah setiap
kali, secara periodik, segera setelah tiba saatnya (jadi bukan setiap
hari) beban/intensitas di tambah.
PRINSIP-PRINSIP LATIHAN
Prinsip-prinsip latihan haruslah diketahui dan
benar-benar dimengerti oleh pelatih maupun atlet. Tanpa mengetahui prinsip-prinsip latihan tak
mungkin atlet bisa dilatih dengan sukses, pelatih juga akan sukar menyusun
program latihan dengan baik dan benar.
PRINSIP BEBAN LEBIH (Overload)
Prinsip overload ini berbunyi bahwa beban
latihan yang diberikan kepada atlet haruslah yang cukup berat (jadi jangan
terlalu berat). Kalau latihan dilakukan secara sistematis maka
tubuh atlet akan dapat menyesuaikan (adaptasi) diri semaksimal mungkin kepada
latihan berat tersebut.
Kalau
beban latihan terlalu ringan dan tidak ditambah (tidak diberi overload), maka
berapa lama pun, betapa sering pun, atau sampai bagaimana capek pun kita
berlatih, prestasi tidak akan
meningkat, atau peningkatannya kecil sekali.
PRINSIP PENAMBAHAN BEBAN
Kalau beban terlalu berat, dan atlet
tidak mungkin bisa mengatasi, maka
sistem-sistem faaliah dalam tubuh tidak akan mampu untuk menyesuaikan diri
dengan stres-stres yang terlalu ekstrim berat tersebut.
PRINSIP SISTEM TANGGA
Dalam mendesain latihan overload, pelatih disarankan untuk menerapkan
sistem tangga (step type approach) atau sering pula diistilahkan dengan
wave-like system (sistem ombak), yaitu penambahan beban latihan secara bertahap
yang diselingi dengan tahap unloading.
PRINSIP SPESIALISASI
Tujuan serta motif atlet biasanya adalah untuk melakukan spesialisasi,
sebab hanya dengan spesialiasi dia akan bisa memperoleh sukses. Spesialisasi berarti
mencurahkan segala kemampuan, baik fisik maupun psikis pada suatu cabang
olahraga tertentu. Penerapan prinsip spesialisasi kepada anak2 dan atlet muda
harus selalu berpedoman pada prinsip multilateral
yg. merupakan basis bagi perkembangan spesialisasi.
PRINSIP
INDIVIDUALISASI
Setiap orang mempunyai perbedaan individu
masing-masing. Demikian
pula, setiap atlet berbeda dalam kemampuan, potensi, karakteristik, dan
kecepatan belajarnya. Faktor-faktor seperti umur, jenis, bentuk tubuh,
kedewasaan, latar belakang pendidikan, lamanya berlatih, tingkat kesegaran
jasmaninya, ciri-ciri psikologisnya, semua harus ikut dipertimbangkan dalam
mendesain program latihan bagi atlet.
Jadi, training harus
direncanakan dan disesuaikan bagi setiap individu agar dengan demikian latihan
tersebut dapat menghasilkan yang terbaik (the best result) bagi individu tersebut.
PRINSIP INTENSITAS
LATIHAN
Yang dimaksud dengan intensitas latihan
ialah besarnya energi yang harus dikeluarkan dalam melaksanakan latihan tersebut yang
dilandaskan pada prinsip overload dan
yang secara progresif menambahkan beban
kerja, jumlah repetisi gerakan, serta
kadar intensitas dari repetisi tersebut. Keluarnya keringat saja
belum tentu bisa dipakai sebagai indikasi/patokan intensif tidaknya latihan.
Intensitas
latihan mengacu kepada jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu unit waktu tertentu.
Makin banyak kerja yang dilakukan dalam suatu unit waktu, makin tinggi
intensitas latihannya. Contoh: satu menit lempar 60 bola adalah lebih
intensif daripada 30 bola. Lari cepat
400 m lebih intensif daripada jogging
400 m.
PRINSIP KUALITAS LATIHAN
Berlatih secara intensif saja belumlah cukup
apabila latihan atau dril-dril tidak berbobot, bermutu, berkualitas. Orang bisa
saja berlatih keras sampai habis napas dan tenaga, tetapi isi latihannya tidak
bermutu. Karena itu prestasinya tidak akan meningkat. Jadi,
latihan yang intensif tersebut belum tentu dengan sendirinya berarti bahwa
latihan tersebut bermutu. Latihan
yang bermutu haruslah :
1. latihan
dan drill-drill harus benar-benar bermanfaat dan sesuai
dengan kebutuhan atlet.
2.
koreksi-koreksi yang konstruktif
sering diberikan,
3. pengawasan
dilakukan oleh pelatih sampai ke detil-detil gerakan,
4. prinsip
overload dan intervensi IPTEK olahraga diterapkan
dalam latihan.
PRINSIP VARIASI DALAM LATIHAN
Untuk menghindari boredom, sesi-sesi latihan
sebaiknya diselingi dengan variasi-variasi latihan seperti permainan-permainan
dengan bola, perlombaan-perlombaan estafet, berenang, naik sepeda ke gunung,
cross country, atau lain-lain kegiatan yang bersifat rekreatif-aktif. Kecuali
membawa kegembiraan berlatih, unsur daya tahan, koordinasi gerak, kelincahan,
dan lain-lain komponen fisik juga akan
tetap terlatih.
PRINSIP KEMBALI ASAL (Reversibility)
Kalau kita berlatih, pasti akan ada
perkembangan dalam organ-organ tubuh kita, karena latihan memang akan
merangsang fungsi organ-organ tersebut. Tapi sebaliknya, prinsip kembali asal
mengatakan bahwa, kalau kita berhenti berlatih, tubuh kita akan kembali ke
keadaan semula dan kondisinya tidak akan meningkat (atau terjadi
detraining). Dan training effect (dampak
latihan) yang telah diperoleh dari latihan sebelumnya akan memudar dan lama-kelamaan
hilang. Beberapa penelitian mengungkapkan hal-hal tersebut.
Jadi,
atlet yang ingin meningkatkan prestasinya secara progresif harus berlatih secara kontinu. Untuk atlet-atlet
elit sedikitnya 5 hari seminggu pagi dan sore (10 sesi).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar